MENELUSURI JEJAK -JEJAK RATU PANTAI SELATAN DI PULAU DEWATA/BALI

MENELUSURI JEJAK -JEJAK  RATU PANTAI SELATAN DI PULAU DEWATA/BALI

MENELUSURI JEJAK -JEJAK  RATU PANTAI SELATAN DI PULAU DEWATA/BALI 

Wacana Ratu Pantai Selatan di pesisir Bali Selatan mengandung sebuah pesan religius-magis untuk penghormatan terhadap laut yang dipersonifikasikan sebagai ‘ibu’. Seorang ‘ ibu’ akan selalu menjadi tempat mencurahkan keluh kesah dari anak-anaknya. Demikian pula ‘laut’ menjadi tempat penampungan segala kotoran sampah, namun tetap saja laut dibutuhkan, karena merupakan sumber dari segala sumber kehidupan. Mengingat begitu pentingnya laut, maka masyarakat wajib melindungi dan melestarikannya dari ancaman abrasi dan pencemaran. Apabila laut dalam kondisi kritis, dapat menimbulkan bencana yang dikenal dengan tsunami. Kemudian, diartikan sebagai pertanda akhir zaman, suatu wilayah/pemerintahan sedang mengalami masa sulit seperti terjadinya konflik politik, sosial dan ideologi akan dapat  penyucian secara lahir bathin melalui ritual yang dikenal dengan melukat (ruwatan). P
dan penyucian diri dengan alam semesta juga merupakan simbol dari penyucian buana Alit dan buana Agung. Oleh karena itu, masyarakat juga melakukan ritual melasti, mapakelem, dan nyegara-gunung. Dengan melakukan ruwatan diperoleh ketenangan, kenyamanan, dan ketentraman. Apabila tubuh/badan merasa nyaman dapat berpengaruh terhadap ketenangan dan ketentraman pikiran. Seorang yang berpikir tenang dan berperilaku bijak adalah orang yang sehat secara fisik /lahir maupun bathinnya. Jadi malukat atau ruwatan merupakan salah satu bentuk kearifan lokal tentang pengobatan tradisional atau penyucian diri.

Keberadan Kanjeng Ratu Kidul di pesisir pantai selatan Bali

MENELUSURI JEJAK -JEJAK  RATU PANTAI SELATAN DI PULAU DEWATA/BALI

Di Bali tokoh Kanjeng Ratu Kidul juga dipandang sebagai tokoh yang keberadaannya tidak terlepas dari kekuatan alam supranatural (alam halus) sehingga diberi nama atau julukan berbeda-beda antara lain, seperti: Bunda Ratu, Kanjeng Ratu Gede Kencanasari Sekaring Jagat, Ratu Biyang Sakti, Ratu Nyang Sakti, Ratu Ayu Subandar, Dewi Kwan Im, Dewi Danuh, Ibu Dewi Parwati, Dewi Gangga, Ratu Ayu Mas Manik Tirta, Ratu Ayu Mas Kentel Gumi, Ratu Ring Tengahing Segara, Ratu Hyang Giri Putri, Ratu Ayu Manik Macorong Dane Gusti Blembong, Ratu Sawang Dalem, Ratu Sang Kala Sunya, dan beberapa nama lain yang tidak disebutkan dalam penelitian ini. Masing-masing informan memahami tokoh ini secara berbeda-beda. Ada yang mengatakan ‘roh’ manusia yang telah mengalami reinkarnasi berulang- ulang, dan ada pula yang memandang tokoh Kanjeng Ratu Kidul tidak pernah hidup sebagai manusia, namun tetap merupakan ‘roh’ yang berada (hidup) di alam Dewata. Nama apa pun yag dijuluki merupakan fakta semiotik dari persepsi masyarakat, bahwa wacana terhadap Kanjeng Ratu Kidul di pesisir Bali Selatan dapat diresepsi.

Nama-nama yang diberikan kepada Kanjeng Ratu Kidul berdasarkan keadaan, kepribadian, kekuasaan, serta fungsi dan tugasnya sebagai pengemban amanah dari Tuhan Yang Mahaesa dalam perspektif spiritual. Oleh karena itu, lukisan Kanjeng Ratu Kidul palinggih/gedong, patung, dan berbagai wujud lain menjadi simbol, peran, dan kepribadiannya. Misalnya, pada saat murka, maka lukisannya terlihat menyeramkan, juga pada saat berperan sebagai seorang ibu yang pengasih, penyayang dan pemberi berkah, terlihat lukisannya cantik dan anggun, berpakaian serba hijau dengan mahkota di kepalanya, mengendarai kereta kencana di atas gulungan ombak.

Menurut Mangku Laksana konon pada waktu itu, Ida Danghyang Sidhi Mantra beryoga semadhi memohon kerahayuan seisi jagat kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa yakni Sanghyang Siwa dan Sanghyang Baruna Gni sebagai penguasa samudra raya. Kemudian Dang Hyang Sidhi Mantra dititahkan untuk menggoreskan tongkat beliau tiga kali ke tanah tepat di daerah ‘ceking geting’ (ruas jalan yang paling sempit). Akibat goresan itu air lautpun terguncang bergerak membelah bumi sehingga daratan Bali dan tanah Jawa yang semula jadi satu, akhirnya terpisah oleh lautan lalu dinamakan Selat Bali. Sedangkan ‘lingga’ ini ditemukan berbarengan dengan pendirian Pura Segara Rupek yang kemudian oleh masyarakat diyakini sebagai tempat memuja Dewa Siwa dan Dewi Parwati yang bermanifestasi sebagai Kanjeng Ratu Kidul.
Suatu ketika Dewa Siwa mengajarkan kepada Dewi Parwati ilmu ‘Tantra’,
namun dalam proses pembelajaran, Dewi Parwati tidak berkonsentrasi akibatnya ilmu yang diajarkan tidak bisa meresap. Akhirnya Dewa Siwa murka, lalu menghukum Dewi Parwati atas kegagalannya dengan mengirimnya kepada Dewi Gangga hingga bereinkarnasi menjadi putri seorang nelayan. Singkat cerita, penjelmaan sebagai putri seorang nelayan dimaksudkan agar dapat lebih memfokuskan pikiran, dalam mengatasi segala permasalahan duniawi. Pada reinkarnasi berikutnya beliau berwujud dan bermanifestasi sebagai Kanjeng Ratu Kidul yang kini dipercaya oleh masyarakat di Jawa sebagai ratu penguasa pantai Selatan, tetapi di tempat ini dipercaya melindungi satwa langka. Pengiring (ancangan dan unen-unen) beliau adalah ‘buyung bangke’ (lalat hijau).

Dahulunya Kanjeng Ratu Kidul adalah seorang putri raja, sekitar abad ke-8 yang sangat cantik. Saking cantiknya semua laki-laki tertarik, akhirnya dikenai guna-guna rusaklah mukanya, karena malu lalu sang putri melarikan diri ke laut selatan namun kemudian diberikan anugerah oleh ‘Bhatara Segara’ dijadikanlah penguasa lautan (I B. Miyasa).

Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul, dahulunya adalah seorang putri yang pandai menari sehingga menjadi kesayangan pangeran. Namun, cinta mereka tidak mendapat restu dari raja sehingga dia menceburkan diri dan menjadi penguasa di laut Selatan (Meme Bukit).

Mangku Koming/Mk. Gede menceritakan bahwa Ratu Kidul di tempat ini memang sering hadir terutama saat pujawali (piodalan) yang jatuhnya pada hari Buda Cemeng Ukir. Tanda kehadiran beliau dituturkan sebagai berikut: Pada puncak piodalan biasanya ada salah satu ‘pemangku’ mengalami ‘kerawuhan’ (trans) tidak berhenti-henti sampai kemudian secara tiba-tiba air laut naik setinggi ± 2 meter terbelah lalu berjalan melewati gundukan pasir sejauh ± 0,5 km bergerak ke arah utara membentuk ‘loloan’, dan air itupun seolah berhenti (mecangcang) di depan sebuah jembatan yang menghubungkan antara pantai dengan Pura serta diikuti banyak sampah.
Orang yang mengalami ‘kerauhan’ secara otomatis berhenti. Bila dihubungkan dengan dunia ‘niskala’ orang yang punya naluri spiritual tinggi melihat telah datang sebuah ‘perahu emas’ berhenti (mecangcang) bersama seorang putri cantik yang anggun. Sesuai tradisi, kedatangan air tersebut ‘dipendak’ (dijemput) dengan sesaji, dengan mengatakan Ratu Bhatari Solo ‘sampun rawuh’ (sudah datang)
akan menyaksikan prosesi ritual piodalan di Pura ini dan air yang ‘mecangcang’ itu langsung mengalir turun ke sungai rawa-rawa di bawah jembatan.

Di Pura Susunan Wadon terdapat sebuah pelinggih yang berbalut serba hijau. Dasar pelinggih dijaga oleh patung buaya. Menurut Mangku Dalem Sakenan, yang bersthana pada pelinggih itu adalah “Ratu Ayu Manik Macorong Dane Gusti Blembong”. Nama inilah yang dikaitkan dengan Dewi Penguasa Laut Selatan (Ratu Kidul). Pada saat ini, disthanakan di Pura Dalem Sakenan pada pelinggih ‘Sawang Dalem’ yaitu pelinggih yang berada di luar (samping kiri) pura Dalem Sakenan. Pura Dalem Sakenan ini, diyakini sebagai tempat krama subak memohon keselamatan, kesejahteraan dan berkah Tuhan agar segala tanaman di sawah dan ladang terhindar dari hama. Masyarakat meyakini bahwa ‘Hyang Sakenan’ dapat mengendalikan walang sangit sedangkan ‘Hyang Masceti’ mengendalikan tikus-tikus perusak tanaman.

Mangku Tamat menuturkan, bahwa cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul sering terdengar di tempat ini. Namun, hanya sebatas ‘anjangsana’ karena tidak ada situsnya, artinya beliau tidak diperdewakan. Akan tetapi, dalam agama Hindu selalu percaya adanya ‘Rwa-Bhineda’ yang diibaratkan sebagai Timur-Barat atau laki-perempuan. Atas dasar kepercayaan itu, mula-mula dibangun Pura Dalem Cemara (lanang) jauh sebelum adanya Pura Sakenan yang berkaitan dengan Pura Giri Sloka di Alas Purwa (wadon). Di pantai Serangan juga ada Syahbandar (pelabuhan) sehingga menimbulkan berbagai persepsi masyarakat dan selalu mengaitkan dengan keberadaan Siwa (Hindu) dan Budha. Kalau di Jawa Kanjeng Ratu Kidul dianggap dewi Laut, sama dengan di Bali yang namanya ‘Laut’ tetap dipuji dan disakralkan terutama oleh orang-orang intelek (spiritual). “Dengan kata dan nama apa kau bisa sembah, kalau sudah percaya A, ya tetap A, pada dasarnya apapun yang kita katakan ‘jeg tetep Ida eling’. Laut pesisir Bali Selatan dari pantai Gilimanuk sampai Padangbai disakralkan, maka cerita Kanjeng Ratu Kidul pasti ada tetapi dengan persepsi dan cara penyampaian yang berbeda.

Menurut Wayan Lutur di Pura Tunggak Tiying ada beberapa palinggih, antara lain: palinggih Ida Ulam Agung, Ida Panji Landung, Palinggih Surya, Palinggih Ratu Niyang, Ratu Syahbandar, Ida Buaya Putih (pengabih Ratu Pantai Selatan). Dinamakan Tunggak Tiying konon pernah ada serumpun pohon bambu yang terbakar oleh ilmu kawisesan leluhur Puri Kesiman, tinggal satu tonggak (bongkol) bambu yang tidak terbakar. Tonggak itulah sebagai tanda untuk penamaan Pura ini. Pernah juga ada penampakan api di ‘sunduk bale’ di atas kepala Ratu Ngurah Mangku yang sedang ‘mekemit’. Antara sadar dan tidak sadar, Ratu Ngurah didatangi (keselang), menampakkan diri dalam wujud asli sebagai ‘tengkorak’. Melalui mimpi itu, Ida Panji Landung menampakkan diri seperti patung yang ada pada saat ini yang menggunakan ‘kampuh’ poleng tiga warna. Hal ini juga didukung dan dibenarkan oleh Anak Agung dari Puri Blahbatuh, bahwa tiga warna yang dimaksudkan karena Ida sudah ‘meraga’ Hyang Tri Sakti. Di Pura Tunggak Tiying yang dinamakan Ratu Kidul adalah Ratu Niyang ring Tengah Segara yang bergelar Ida Ratu Ayu Mas Kentel Gumi beliaulah Nyi Roro Kidul. Beliau telah menciptakan pulau Serangan yang muncul di tengah laut sehingga dinamakan pulau Mas. Pada saat dilakukan reklamasi, pernah ada petunjuk gaib untuk segera menata kembali Pulau Serangan dan melindungi semua parhyangan yang ada yakni sebanyak 28 pura termasuk beji pura.

Dalam kaitannya dengan cerita Ratu Kidul,Mangku Mertasari, mengatakan bahwa, Ida Ratu Dalem Segara bergelar ‘Ratu Ayu Mas Manik Tirta’ yang dimaksud. Beliau merupakan putri dari ‘Ida Bhatari Dewi Danuh’ penguasa dan pelindung sumber mata air yang secara khusus ditugaskan melindungi kesakralan Pura dan pantai. Biasanya, di pura ini orang memohon kesuburan tanaman pertanian dan memohon pengobatan untuk penyembuhan dengan cara ‘malukat’. Bagi yang ingin ‘malukat,’ dibebaskan untuk memilih ‘Tirta Penglukatannya’, boleh diambil dari air laut atau dari sumber air yang ada di di tempat ini. Biasanya pilihan ‘tirta’ sesuai dengan kata hati (kleteg bayu) dan ‘rasa’. Kedatangan mereka atas dasar niat baik dan permohonan yang tulus ikhlas ke hadapan Ida Sanghyang Widhi, apapun permohonannya dipastikan mendapat hasil.

Mangku Made Ranten menuturkan, bahwa pura yang sudah berstatus Dang Kahyangan ini dikenal oleh masyarakat sebagai tempat melaksanakan ritual ‘malukat’ yakni ritual pembersihan diri secara lahir bathin guna menghilangkan segala noda, dosa, dan penyakit (fungsi pengobatan). Ritual ‘melukat’ didahului oleh prosesi pemujaan kepada dewa-dewi penguasa sumber mata air pemberi kesembuhan dan keselamatan melalui doa (sae) salah satu disebutkan ‘Ratu Gede Sekaring Jagat’. Beliaulah Ratu Laut Selatan (Ratu Laut Kidul) yang kini sudah dipercaya di Bali turut serta bersama dewa-dewi lainnya membantu manusia mengatasi segala permasalahan duniawi. Sebelum ritual melukat dilaksanakan, ‘pemedek’ harus bersembahyang (matur piuning) terlebih dahulu pada sebuah palinggih yang diapit ‘patung buaya putih’ yang dipercaya sebagai pengawal (ancangan) Kanjeng Ratu Kidul.

I Gusti Lanang Putu menuturkan, bahwa pura yang diberi nama Sukeluih Suun Kidul ini sesungguhnya diartikan sebagai Ida Sesuhunan ring Kidul yang telah dibuatkan tempat yang indah dan bagus. Keberadaan pelinggih ‘meru tumpang sebelas’ yang ada di ‘utama mandala’ berkaitan dengan pelinggih lain dan menyimpan banyak misteri terutama dengan pelinggih di ‘nista mandala’(jaba) Pura yang tanpa identitas. Informan menceritakan tentang keberadaan Pura, bahwa pada zaman dahulu diceritakan seorang putri yang berasal dari desa Keramas-Gianyar menikah ke Puri Blahbatuh. Menjadi warga dan berada di lingkungan Puri memang selalu mendapat pengawasan yang ketat terutama dalam hal perilaku, etika tata krama dan kedisiplinan harus dipatuhi.
Suatu ketika Putri ini difitnah dan dituduh berselingkuh dengan seorang lelaki kasta sudra yang bernama I Gina. Sampai akhirnya kedua insan itu dibunuh atas perintah Raja. Namun sebelum mati yang perempuan berpesan apabila benar mereka berselingkuh cirinya air laut akan tenang-tenang saja, tetapi jika tidak benar maka air laut akan naik mengguncang wilayah ini. Ternyata air laut sempat naik setinggi 4 meter menggulung ke daratan merusak wilayah sekitar, dan itu artinya mereka tidak benar berselingkuh alias difitnah. Oleh karena itu mereka ‘ngrebeda’ dan minta supaya dibuatkan ‘pelinggih’dengan bangunan ‘meru’ berbahan dari batang pisang (gedebong). Bisa dibayangkan, bahan dari batang pisang sifatnya hanya sementara, sehingga setiap minggu harus diganti oleh para ‘panjak’ (kawula). Lama-lama para ‘panjak’ merasa kewalahan, lalu dibuatkan pelinggih dengan ‘meru tumpang sebelas’ yang permanen untuk sang Putri. Palinggih meru itulah yang sekarang menjadi Pura diberi nama Sukeluih Suun Kidul.

Sedangkan yang laki dibuatkan pelinggih tetapi ditempatkan di luar (jaba sisi) tanpa nama. Dengan pembuatan ‘meru tumpang sebelas’ sang Putri sudah dianggap ‘meraga Siwa-Budha’ menyatu antara ‘roh’ dengan Tuhan. Dari pemahaman masyarakat setempat sang Putri itulah yang dijuluki Ratu Kidul. Kini saya dengar ada wacana untuk menjadikan Pura ini sebagai Pura Dang Kahyangan.

Menurut Alit Adnyana di Pura Campuhan Windu Segara banyak manifestasi Tuhan yang dipuja. Paling Timur ada pelinggih Dewa Baruna dengan sakthinya Kanjeng Ratu Kidul sebagai penguasa laut, makanya jenis sesangi (kaul) warga di sini serba hijau. Di lokasi ini juga sering dilakukan ritual ‘ngangkid’ dan ‘nyegara-gunung’. Sampai saat ini pantai Padang Galak (Pura Campuhan Windu Segara) dapat digunakan sebagai situs melaksanakan ritual ‘melasti’ dan ritual ‘malukat’, bahkan masyarakat dari berbagai desa se-Bali berdatangan ke pantai ini, asalkan dapat memilih dan memilah tempat yang di tuju. Di sini juga ada pelinggih Ratu Gede Mas Mecaling yang pernah mengajak saya ‘terbang’ke Nusa Penida. Juga ada patung Dewi Durga, Ganesha, Siwa, Budha, Dewi Kwan Im dan lainnya.

Semua arca/patung merupakan aturan (persembahan) dari para ‘pemedek’
yang tidak diketahui dari mana asalnya karena merasa mendapatkan berkah, atau kemungkinan si pemilik sadar dan merasa bukan haknya untuk menyimpan. Berkaitan dengan arca/patung Kanjeng Ratu Kidul serta gedong suci, sesungguhnya tidak ada cerita khusus tentang beliau. Menurut perkiraan saya banyak hal yang menyebabkan, diantaranya: setiap manusia punya ‘rasa’dan ‘hati nurani’ atau naluri bathiniah dan kepercayaan atas fenomena yang terjadi terhadap diri masing-masing. Naluri dan ‘rasa’ atau kleteg bayu dicetuskan menjadi keyakinan terhadap hal-hal yang bersifat ‘gaib’, dengan mempercayai Kanjeng Ratu Kidul.
Pendirian gedong suci Kanjeng Ratu Kidul baru-baru ini atas prakarsa seorang donatur, yakni Ibu Wiwik atau lebih dikenal Jro Campuan, yang telah menghabiskan dana milyaran rupiah dihaturkan dengan cuma-cuma dengan rasa tulus ikhlas. Mungkin saja melalui mimpi atau perbuatan yang bersifat kebetulan, dia telah mendapat berkah atas keyakinannya. Di Pura ini, Kanjeng Ratu Kidul diyakini sebagai aspek sakthi dari Dewa Baruna sebagai manifestasi Dewa Wisnu. Saya yakin dan percaya bahwa ada alam lain di luar alam manusia yang terkadang dapat membantu memberikan kekuatan pada saat manusia mengalami masalah. Walaupun menurut keyakinan Hindu dewa laut adalah Dewa Baruna, akan tetapi lautan yang luasnya tidak terbatas tidak mungkin sendirian mengelolanya tanpa adanya kekuatan tambahan, sehingga diperlukan dewa-dewi lain sebagai pendamping-Nya.

Mangku Made Suada, menginformasikan; “Di tepi goa Kelelawar Suci terdapat pelinggih menyerupai tugu, dipercaya sebagai ‘pelinggih Ratu Biyang Sakti’ yang diyakini oleh masyarakat, khususnya paranormal merupakan manifestasi Ratu Pantai Selatan (Ratu Kidul) karena berbalut kain hijau. Ida Bhatara di pelinggih ini (Ratu Biyang Sakti) juga dipercaya turut menjaga keselamatan dengan memberikan rasa aman dan memberikan berkah bagi para nelayan di laut. Di sanalah Kebo Iwa sering melakukan tapa brata yang dikawal oleh seekor ular besar dan seekor tikus putih sebesar anjing.

Mangku Ema,di Pura Batu Bolong Yeh Gangga juga menyatakan, bahwa yang dipuja di Pura ini adalah ‘Ratu Biyang Sakti’ Dalem Dasar Laut Jawa dan Bali berwujud perempuan cantik berambut panjang masih merupakan generasi (anak) dari leluhurnya di Pura Rambut Siwi. Beliau adalah Ratu Pantai Selatan (Ratu Kidul). Hasil terawangan beberapa paranormal juga mengatakan bahwa, pemujaan terhadap Dewi Laut ini berkaitan dengan ditemukannya ‘batu akik’ di Pura Luhur Srijong pantai Payan/Soka, Pura Batu Bolong Yeh Gangga dan Pura Tanah Lot. Benda-benda itu yang menjadi dasar kepercayaan masyarakat, khususnya para ‘balian’ (paranormal) terhadap Pura Batu Bolong telah dijaga oleh seorang dewi Laut yang cantik dan pemurah.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel