Sarana Pemuspan (Sarana Persembahyangan) Agama HINDU

Ada 3 inti dari sarana pemuspan (persembahyangan) yang digunakan penganut Hindu Bali (Çiwa Buda), yaitu Bunga, Air dan Api.

A. Bunga

Fungsi bunga bila dipandang dari sudut persembahyangan adalah memiliki makna antara lain :

1.Sebagai simbol kekuatan Merutha (Angin)

Bunga sebagai simbol kekuatan angin dengan prabhawa dari Sang Hyang Widhi yang disebut Sang Hyang Iswara. Dalam kekuatan Sang Hyang Iswara ini berfungsi sebagai peleburan letuhing sarira (kekotoran Jiwa) bertujuan untuk penyucian diri. Salah satu bentuk pelaksanaannya adalah dengan cara mengusapkan sehelai bunga pada kedua telapak tangan (Kara Sedana), pada saat inilah penganut Hindu Bali memohon penyucian diri dari Kekuatan Sang Hyang Iswara.

2. Sebagai simbol Dewa (Div = Sinar Hyang Widhi)

Dikatakan sebagai simbol kekuatan Dewa di Bhuwana Alit (tubuh manusia) untuk merangsang keheningan pikiran penganut Hindu Bali pada saat itu. Dengan munculnya keheningan itulah sesungguhnya sebagai simbol kekuatan Dewa dalam diri manusia.

3. Sebagai simbol kekuatan Intuisi

Dikatakan sebagai simbol kekuatan intuisi karena sehelai bunga akan disematkan di telinga (laki-laki) atau di rambut (perempuan) setelah memohon Tirtha (Air suci/ Wangsuh Pada Ida Bathara). Hal ini mengandung maksud, setelah penganut Hindu Bali memohon kekuatan penyucian dan Amertha Kehuripan (Kehidupan Langgeng), penganut Hindu Bali juga memohon Kepagehan (Keteguhan) jiwa yang suci selama hidup. Hal ini sesuai dengan petunjuk sastra agama, Yaitu :

"Om Puspadanta Dija Ya Namah Swaha"

Artinya :

Hyang Widhi sebagai sumber kekuatan yang maha suci, anugerahilah penyembah Mu kelanggengan kesucian jiwa selama hidup.

B. Api

Api selalu menjadi pokok landasan dasar pelaksanaan upakara karena api sebagai simbol Sang Hyang Widhi dengan Prabhawa Sang Hyang Agni atau Brahma, yang merupakan sumber dari Widya (Pengetahuan) dengan saktinya yaitu Dewi Saraswati. Api juga sebagai sumber kekuatan pembakaran yang menghanguskan kekotoran dan kebutaan spiritual di Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung.

Selain itu, juga sebagai simbol kekuatan Agni Homa dan Agni Hotra, seperti adanya api penimpug, api tekep, dan api dupa (Agni Hotra).

Sedangkan api yang lain seperti api linting pada banten pengelepasan AUM, api pedamaran pada Çiwa Upakrana (Agni Homa).

C. Air

Dalam kegiatan upakara (upacara agama) menurut keyakinan Hindu Bali, keberadaan air merupakan hal yang sangat penting sebagai sarana memohon anugerah Amertha (kekuatan hidup) dan kesucian dari Sang Hyang Widhi, maka dari itu air memiliki beberapa fungsi dalam pelaksanaan upakara, antara lain :

1. Air sebagai sarana memohon penyucian.

Air adalah sarana untuk memohon penyucian, terutama dipakai saat melaksanakan persembahyangan dengan cara membilas tangan sebagai pertanda memohon kekuatan peleburan letuhing sarira (kekotoran jiwa) kehadapan Sang Hyang Widhi dengan Prabhawa sebagai Sang Hyang Wisnu sesuai petunjuk sastra agama, yaitu :

"Om Rahpat Astra Ya Namah

Om Jang Jiwa Sudha Ya Namah

Om Ung Wishnu Angelebur Dasa Mala Geleh Pateletehi Sarira"

Maksudnya :

Sang Hyang Widhi, hamba memohon penghangusan dan peleburan segala bentuk kekotoran agar jiwa hamba menjadi suci nirmala (tanpa kekotoran).

2. Air sebagai sarana untuk memohon kekuatan Amertha (kekuatan hidup)

Sebagai pertanda selesainya suatu upakara, dimana pelaksanaan pemercikan air suci (Tirtha) yang terakhir dilaksanakan karena Tirtha mengandung kekuatan penyucian dan Amertha. Sesungguhnya Tirtha tersebut dapat mengandung kekuatan Panca Amertha, antara lain :

a. Amertha Sanjiwani, memiliki kekuatan kesucian skala niskala.

b. Amertha Kamandalu, memiliki kekuatan Kepradnyanan dan Kewibawaan.

c. Amertha Kundalini, memiliki kekuatan intuisi.

d. Amertha Pawitra, memiliki kekuatan peleburan segala bentuk kekotoran jiwa dan raga.

e. Amertha Maha Mertha, memiliki kekuatan pembebasan (Moksa)


Demikian Sedikit tulisan mengenai sarana pemuspan ( Sarana Persembahyangan ) menurut Agama HINDU.

Sumber :

~ Lontar Kotaraning Sembah (terjemahan Drs. Ida Bagus Sudarsana MBA, MM)

~ Lontar Weda Parikrama Sarahiota Samapta (terjemahan Drs. Ida Bagus Sudarsana MBA, MM)


Sekian dulu ya, semoga artikel ini berguna buat Anda. jangan lupa kunjungi terus cakepane.com, dan dapatkan Update artikel terbaru kami.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel