MISTERI KANJENG RATU KIDUL DI HOTEL INNA GRAND BALI BEACH DI PANTAI SANUR- BALI

MISTERI KANJENG RATU KIDUL DI HOTEL INNA  GRAND BALI BEACH DI PANTAI SANUR- BALI

MISTERI KANJENG RATU KIDUL DI HOTEL INNA  GRAND BALI BEACH DI PANTAI SANUR- BALI 

Kelompok masyarakat dengan profesi Paranormal (Penekun Spiritual)seperti pemangku, balian (dukun), pertapa, perguruan - perguruan spiritual dll khususnya di Bali sudah tidak asing lagi dengan nama- nama tokoh - tokoh seperti: Kanjeng Ratu Kidul/ Bunda Ratu Kidul, Ratu Gede Dalem Nusa/Ped, Ratu Nyang Sakti, Ratu Ayu Subandar/ Dewi Kwan Im, biasanya mereka dengan cara memuja tokoh -tokoh tersebut sebagai sasuhunan (mamundut) yang mereka yakini/percaya sebagai penyelamat dan bahwa tokoh - tokoh tersebut mempunyai kekuatan yang berbeda misalnya :

  1. Kanjeng Ratu Kidul/ Bunda Ratu: gaib, cantik, anggun,welas asih, meneladani, mengayomi dan melindungi, serta penyayang, membantu mengatasi segala permasalahan duniawi.
  2. Ratu Gede Dalem Nusa/Ped: mistis (maha gaib), tegas, sakti mandraguna, disegani, namun adil memberikan hukuman dan bijaksana dalam menjaga keamanan perbatasan antara laut dengan darat dapat melindungi masyarakat dari bencana serta hama penyakit.
  3. Ratu Nyang Sakti: gaib, pemberi berkah, pemurah dalam hal rejeki untuk setiap rumah tangga yang bermasalah dengan keuangan.
  4. Ratu Ayu Subandar : gaib, pemurah dalam hal rejeki (mengatur keluar masuknya rejeki) pada setiap pemujanya.
  5. Dewi Kwan Im: gaib, welas asih, lemah lembut, penyayang,pemurah (sebutan lain Ratu Ayu Subandar).


Pada kesempatan ini saya akan menceritakan khusus tentang misteri Kanjeng Ratu Kidul di hotel Bali Beach pantai Sanur.

MISTERI KANJENG RATU KIDUL DI HOTEL INNA  GRAND BALI BEACH DI PANTAI SANUR- BALI

Cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul  di Bali belum ditemukan secara mengkhusus baik dalam sastra maupun purana. Namun demikian, beberapa nara sumber menjelaskan pernah membaca, bahwa wacana tentang RK disinggung sekilas dalam cerita babad, yakni babad Sukawati disebut-sebut Ida Bhatara Kasuhun Kidul dan juga dalam buku babad Jawa sebagai seorang putri raja.

Pengaruh budaya Jawa berupa nilai kehidupan, telah lama masuk ke Bali, terutama sejak zaman kerajaan Gelgel-Klungkung. Sebagai nilai kehidupan, tidak ada yang mengetahui masuknya secara pasti. Namun, dari catatan sejarah dapat diperkirakan ada tiga periode penting yang dilalui, yakni: zaman Kediri-Singosari dengan rajanya Dharmawangsa, zaman Majapahit, hingga masuknya agama Islam dan zaman modern (setelah merdeka). Sejalan dengan itu, sebagai bukti cerita Kanjeng Ratu Kidul  dari Jawa masuk ke Bali dapat dilihat dengan adanya beberapa artifact berupa: ‘lingga’, arca/patung, lukisan, kamar suci, yang menjadi tempat pemujaannya berikut ritual di beberapa Pura pesisir Bali Selatan.
Secara struktur, diperkirakan wacana tentang Kanjeng Ratu Kidul  sudah pernah diterima di Bali, tetapi tidak utuh, sebagian berupa cerita lepas sesuai pemahaman/persepsi masyarakat di Bali.

Peristiwa kebakaran hotel Bali Beach tahun 1992 membawa misteri yang tak terpecahkan oleh para ilmuawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Tepatnya pada tanggal 20 Januari 1993, hotel yang dulunya bernama Bali Beach ini terbakar dahsyat. Selama 3 hari 3 malam, api melumat seluruh bangunan hotel. Bahkan, pohon-pohon kelapa yang berada cukup jauh dari jilatan api ikut hangus karena efek panas yang ditimbulkan. Anehnya khusus kamar 327 sedikitpun tidak tersentuh api. Bahkan sekeling kamar dan areal lobby hotel hangus terbakar saat itu. Sampai sekarang pun kamar 327 masih dibiarkan seperti kondisi aslinya setelah terbakar. Dapat dilihat, korden dan bekas-bekas terbakar api masih ada sampai sekarang.

Sebelum kebakaran terjadi sudah ada tanda peringatan yang diterima oleh salah seorang karyawan hotel pada saat itu, melihat penampakan dan mendapat petunjuk langsung dari KRK. Peringatan itu diharapkan mendapat respos terutama dari pihak manajemen. Namun, peringatan yang berulangkali muncul tidak direspons.

Soal kaitannya dengan Putra Sang Fajar/ Bung Karno disitu ada kisahnya lagi. Bali Beach Hotel yang sekarang berganti nama jadi Inna Grand Bali Beach itu merupakan hotel pertama yang ada di Bali . Dibangun pada tahun 1962 dengan memanfaatkan tanah pampasan dari tentara jepang masa itu.

Saat itu, Soekarno yang menjabat sebagai presiden RI pertama, punya kaul mau membangun kamar di pinggir pantai Sanur untuk sang penguasa gaib Ratu Pantai Selatan. Bersamaan dengan pembangunan Bali Beach Hotel, kamar itupun dibangun.
Bahawalpur kamar yang bernomor 327 itu ternyata adalah salah satu kamar yang pernah dipesan oleh Bung Karno pada saat pembangunan hotel baru dimulai. Kamar tsb rencananya digunakan untuk bermeditasi apabila sedang berada di Bali.

Semasa hidup Bung Karno belum pernah sekalipun menempati kamar 327 tersebut, sebelum hotel beroperasi Bung Karno  mengakhiri kepemimpinannya, muncul peristiwa 30 September yang akhirnya membuat Bung Karno jatuh. Sementara hotel ini masih dalam taraf pengerjaan dan baru beroperasi tahun 1966, itu grand openingnya. Akhirnya kamar itu pun disewakan seperti kamar-kamar lainnya hingga terjadi kebakaran. Sejak diketahui permasalahan seperti itu, maka kamar 327 disebut sebagai kamar Bung Karno dan tidak disewakan lagi tetapi disakralkan dengan menghias, merawat, dan memberikan ritual sesaji sampai sekarang.

Setelah kebakaran baru semua berubah. Itu dianggap sesuatu yang luar biasa karena cuma kamar ini saja yang nggak kemakan api.

Atas dasar firasat, kemudian pihak hotel mengundang hampir semua paranormal yang ada di Bali dan sebagian datang dari pulau Jawa. Maksudnya, untuk mencari tahu kekuatan supranatural apa yang ada di kamar 327.

Akhirnya didapat kesimpulan, kalau kamar yang awalnya memang sengaja dibangun Bung Karno untuk Sang Ratu Gaib menyimpan banyak kekuatan mistis. Salah satu contohnya, tidak terjamah api saat berlangsung kebakaran hebat. Masih menurut pandangan metafisik dari paranormal yang sering bermeditasi disana mengungkap, Sang Ratu Pantai Selatan menghadiahkan lagi kamar itu untuk Soekarno. Itulah mengapa, saat kebakaran besar terjadi kamar suci ini tidak ikut dilalap si jago merah.

Hotel yang terletak di pinggir pantai Sanur Denpasar Selatan, ini ada hotel dan ada Cotage. Khusus di areal Chotage yang sekarang jadi villa juga ada yang disucikan yaitu kamar 2401 tempat di kamar suci Ratu Pantai Selatan. Di kamar 2401, tidak diperkenankan masuk selain untuk tujuan ritual.

Cerita berikutnya adalah Cottages BB yang bernomor 2401 menurut informan yang pernah menjadi ‘pemangku’ di kamar itu, keberadaannya dibangun tahun 1997 melalui mimpi dan petunjuk paranormal yang pernah didatangi oleh seorang perempuan cantik berambut panjang mengaku bernama Kanjeng Ratu Kidul.. Orang tsb ternyata juga meminta disiapkan kamar khusus agar selalu bisa berdekatan dengan Bung Karno maka , jadilah kamar 2401yang selanjutnya dinamakan kamar suci Kanjeng Ratu Kidul. Sama perlakuannya seperti kamar 327, kamar 2401 pun dihias serba hijau, dirawat dan diberikan ritual sesaji baik sehari-hari maupun pada saat hari tertentu seperti pada bulan Suro tepatnya pada malam 1 Suro dilakukan ritual ‘labuhan’ (larung) di laut hingga saat ini.

Kamar suci nomor 2401 memiliki dua ruangan sebagai berikut.


  • Satu ruangan khusus untuk bermeditasi.
  • Ruangan lainnya berisi 5(lima) buah kursi melingkari meja yang diyakini dan disiapkan untuk pertemuan gaib. 


Setelah kedua kamar tsb di atas disakralkan, sejak itu pula muncul wacana Kanjeng Ratu Kidul sesuai dengan persepsi dan sudut pandang masing- masing yang dikaitkan dengan tugas dan fungsinya pada wilayah pewacanaan. Melihat ciri khas keberadaan kedua kamar tsb maka para spiritual kejawen menghubungkan Kanjeng Ratu Kidul sebagai bentuk aplikasi ajaran ‘kaweruh’ yang dikenal sebagai manunggaling kawula lan gusti, yakni ajaran yang mengutamakan keserasian hubungan dengan alam semesta. Untuk mencapai hal itu bagi orang Jawa perlu melakukan kearifan lokal yang dinamakan mamayu hayuning bawana yakni cara untuk mencapai keharmonisan dengan alam lingkungan agar tercapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup lahir dan bathin. Implementasi dari ajaran dan kearifan loka tsb dilaksanakan melalui meditasi dan ‘mulat sarira’(perenungan diri) untuk dapat menyatukan pikiran agar perkataan dan perbuatan dapat dikendalikan.

Kanjeng Ratu Kidul di pesisir Bali Selatan mengandung sebuah pesan religius-magis untuk penghormatan terhadap laut yang dipersonifikasikan sebagai ‘ibu’. Seorang ‘ ibu’ akan selalu menjadi tempat mencurahkan keluh kesah dari anak-anaknya. Demikian pula ‘laut’ menjadi tempat penampungan segala kotoran sampah, namun tetap saja laut dibutuhkan, karena merupakan sumber dari segala sumber kehidupan. Mengingat begitu pentingnya laut, maka masyarakat wajib melindungi dan melestarikannya dari ancaman abrasi dan pencemaran. Apabila laut dalam kondisi kritis, dapat menimbulkan bencana yang dikenal dengan tsunami. Kemudian, diartikan sebagai pertanda akhir zaman, suatu wilayah/pemerintahan sedang mengalami masa sulit seperti terjadinya konflik politik, sosial dan ideologi akan dapat  penyucian secara lahir bathin melalui ritual yang dikenal dengan melukat (ruwatan). Penyatuan dan penyucian diri dengan alam semesta juga merupakan simbol dari penyucian buana Alit dan buana Agung. Oleh karena itu, masyarakat juga melakukan ritual melasti, mapakelem, dan nyegara-gunung. Dengan melakukan ruwatan diperoleh ketenangan, kenyamanan, dan ketentraman. Apabila tubuh/badan merasa nyaman dapat berpengaruh terhadap ketenangan dan ketentraman pikiran. Seorang yang berpikir tenang dan berperilaku bijak adalah orang yang sehat secara fisik /lahir maupun bathinnya.

Sarana untuk sembahyang pada Kanjeng Ratu Kidul antara lain; bunga sedap malam, atau mawar, atau melati, bunga kenanga dan boleh juga buah-buahan yang warnanya hijau.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel